Cari

Gradasi Ungu dan Jingga

melihat tanpa menyentuh, merasa tanpa meraba

Pesona Tahu Bulat

Peringatan!
Post ini tidak memuat foto tahu bulat meskipun berjudul tahu bulat.

Continue reading “Pesona Tahu Bulat”

Kita Punya Lekuk Senyum yang Sama

Ingatkah? Ketika kita duduk di bangku taman sore itu. Menikmati sepotong sosis bakar dan segelas coklat pekat. Riang bercerita tentang masa-masa yang akan datang. Dilingkupi temaram cahaya jingga yang sedang mencumbu batas horizon.
Lau lalang kanak-kanak yang riuh bermain, berkejaran, atau bermain menyaru idola mereka. Kita ada disana sore itu. Berdua, menghayal, tentang dengan siapa dan seperti apa, tentang bagaimana dan semestinya. Aku rindu….Rindu, untuk duduk berdua denganmu. Mengukir cerita, membangun asa. Kemudian menyusun rencana. Dan kita sepakat, untuk meletakkan bahagia di tempat yang sama. Sepakat, bahagia melalui jalan yang sama.
Aku rindu…
Rindu sekali…

image

#tanpajudul1

image
Lokasi: Taman kota Simpang Lima Gumul Kediri

Yang direncanakan bisa saja batal. Yang tidak direncakan bisa pula lebih indah. Itulah ketentuan. Ketentuan penguasa langit yang selalu indah dan adil, walau terkadang manusia terlalu bebal dan bodoh hingga tidak tahu dimana letak keadilan serta keindahan itu.
#nasihatlama Continue reading “#tanpajudul1”

#tanpajudul

Kenapa kamu gelisah?
Hei, aku ada disini. Aku ingin mendengar ceritamu. Mencicitlah semau hatimu sembari menghabiskan secangkir kopimu. Dan aku akan mendengarkan dengan mata berbinar serta telinga terbuka lebar. Hingga segelas susu sereal di hadapanku tandas ke dasar.
Continue reading “#tanpajudul”

Noktah Hitam

image
Credit to: @cahayajingga

Langit kota. Tengah hari buta. Namun bisa terlihat bersemu jingga, bukan?
Terkadang mata bisa menipu. Ketika dia tidak mau berjalan bersama dengan logika, dan hati yang sedang ringkih menyambutnya. Dia ikut ringkih. Untuk kemudian bersatu bersama hati yang semakin parah melawan logika yang benar.
Siapa yang akan menang?
Oh. Logika ini benar, dan hati ini salah. Ada racun bersarang disana. Racun itu membentuk noktah hitam. Yang bisa saja makin melebar.
Continue reading “Noktah Hitam”

Nonton. Lagi!

image

Lagi. Sedikit boros untuk bulan ini. Nonton dua film hanya berselang beberapa hari. Setelah kemarin nonton AADC 2. Memang dua film ini dinanti sekali tahun ini. Lagi-lagi, agak malas-malasan pas diajak berangkat, mood sedang tidak baik. Sempat dua kali bilang batal ikut. Tapi terlanjur dibelikan tiket. Yasudahlah berangkat.
Continue reading “Nonton. Lagi!”

Dini Kedua

Fiksi
Oleh: Cahaya Jingga

image

Senja membatas cakrawala. Berkas jingganya menelusuk sela-sela dedaunan. Membasuh pucuk-pucuk pohon. Suara serangga bersahutan. Sesekali burung-burung kecil lewat, hendak pulang ke sarangnya. Mencicit riang tanda mereka telah kenyang.
Gadis itu duduk di teras rumahnya. Sendu menatap matahari yang akan segera pergi. Rumahnya persis berada di ujung paling barat kampungnya. Sebelah barat rumahnya tidak ada apapun selain hamparan sawah. Sawah-sawah itu masih lapang, musim tebang tebu baru saja usai. Jadi dia leluasa menatap matahari tenggelam setiap hari. Menunggu adzan maghrib berkumandang.
“DINI, AKU ADA KABAR UNTUKMU”.
——-
Continue reading “Dini Kedua”

Kenangan

Menjejak kaki ditempat ini. Aku selalu ingat akan kenangan itu. Kenangan yang manis, bisa juga disebut pahit.
Dan aku masih sering ketempat ini. Bukan untuk mengenang fragmen hidup kala itu, bukan. Potongan kisah hidupku ketika disini denganmu sudah lama kukubur. Kukubur dalam bersama langkahku meninggalkanmu. Aku kesini, justru aku ingin menghapus memori itu dan menimpanya dengan cerita baru.
Ah, mudah sekali rasanya aku berkata begitu. Menimpanya dengan cerita baru, memang cerita apa yang akan bisa kubuat disini? Aku bukan pembuat skenario yang asli, aku hanya tukang khayal.
Continue reading “Kenangan”

Kulit Pisang

Ada sepasang pengantin baru. Mereka sedang memasak bersama. Ah, yang lebih tepat di dapur bersama. Si suami sedang duduk di meja makan, serius memotong kulit pisang menjadi kecil-kecil seperti stik. Menyusunnya membaginya lima-lima dan disusun seperti perhitungan suara pemilu. Mungkin ada sekitar seratus stik disana. Kemudian memanggil istrinya.
“Tebak dik, ini apa?”
“Hhmmm, hasil pemungutan suara?”
“Haha, bukan.”
“Kulit pisang?”
“Sudah jelas itu kulit pisang sayang”.
“Lalu?”
“Kau menyerah?”
Continue reading “Kulit Pisang”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑